Pengikut

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Minggu, 12 Februari 2012

syurga dan neraka sebagai kendali kehidupan

“Berbekallah kalian sesungguhnya sebaik-baik bekal adl taqwa.”
Taqwa amat berharga dalam kehidupan seorang Mukmin krn menjadi tolok ukur nilai dirinya di sisi Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Hujurat 13 yg artinya “Sesungguhnya orang yg paling mulia diantara kalian di hadapan Allah adl yg paling bertaqwa.”
Begitu pula utk mengarungi kehidupan akhirat tidak ada bekal yg lbh baik selain taqwa firman-Nya dal Surah Al-Baqarah 197 yg artinya “Berbekallah kalian sesungguhnya sebaik-baik bekal adl taqwa.”
Ketaqwaan juga menyebabkan semua urusan dimudahkan oleh Allah SWT dan dikaruniai rezeki yg tidak terduga. Firman Allah SWT dalam Surah Ath-Thalaq 2-3 yg artinya “Barangsiapa yg bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yg tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yg bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan nya.”
Pendek kata taqwa adl sesuatu yg paling mahal yg harus kita kejar raih dan pertahankan dalam diri kita jika ingin menjadi manusia yg paling mulia baik di dunia maupun kelak setelah berpisahnya ruh dari jasad.
Hakikat Taqwa Sebelum berbicara panjang lebar mengenai langkah-langkah meraih taqwa berikut ini definisi taqwa sebagaimana yg dikatakan oleh ibnu Mas’ud “Engkau berbuat taat kepada Allah dgn cahaya dari Allah dgn mengharap pahala Allah dan engkau tinggalkan maksiat kepada-Nya dgn cahaya dariNya krn takut akan siksaNya“.
Dan pengertian tersebut dapat kita pahami bahwa nilai taqwa seseorang amat berkait dgn kadar raja’ terhadap pahala Allah SWT dan kadar khauf terhadap neraka Allah SWT. Selain itu tentu yg paling awal adl seberapa kadar ma’rifatullah yg ia miliki. Itulah tiga unsur dasar yg mendorong seseorang utk bertaqwa kepada Allah SWT.
Oleh krn itu seseorang tidak mungkin bisa menjadi Muttaqin sejati tanpa rasa takut kepada hari akhir yg ujung-ujungnya adl penentuan tempat tinggal syurga atau neraka! Mari kita simak ayat berikut dalam Surah Al-Muzammil 17 yg artinya “Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yg menjadikan anak-anak beruban“.
Syurga Dan Neraka Pengaruhnya Terhadap Generasi Salafush Shaleh Sebagaimana telah disinggung rasa takut terhadap neraka dan rindu terhadap syurga adl bagian iman yg sangat penting. Bagian ini pulalah yg menyebabkan seseorang mampu mengorbankan apa saja utk Rabbnya dan rela meninggalkan hawa nafsunya agar terhindar dari neraka. Marilah kita simak kembali lembar kehidupan generasi terbaik ummat ini. Salaf Ash-Shaleh yg telah berhasil meresapkan rasa takut terhadap neraka dan rindu terhadap syurga ke dalam sanubari mereka.
Shahabat yg mulia Anas bin Malik r.a. mengisahkan bahwa dalam perang Badar Rasulullah SAW bersabda “Bangkitlah kalian menuju syurga yg luasnya seluas langit dan bumi.” Seorang shahabat yg bernama Umair bin Hamam berkata “Seluas langit dan bumi ya Rasulullah?” “Ya” jawab Rasul. Umair bergumam “Bakh . . . bakh . . .”. Rasulullah SAW bertanya “Apa maksud perkataanmu itu?” Umair menjawab “Demi Allah wahai Rasulullah tidak ada maksud dari perkataanku tadi kecuali aku mengharap utk menjadi salah seorang penghuninya“. Lalu Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya kamu termasuk salah seorang penghuninya“. Umair kemudian mengeluarkan beberapa kurma dari kantongnya dan memakan sebagian. Kemudian ia berkata “Jika saya harus memakan korma-korma ini semua tentu merupakan kehidupan yg terlalu lama“. Lalu ia lemparkan sisa kormanya kemudian segera maju menyerang musuh sehingga ia terbunuh dan syahid . . .
Begitu juga Amru bin Jamuh. Lelaki ini diberi udzur utk tidak ikut berperang krn kepincangannya. Namun cacat tersebut tidak menghalangi tekadnya utk memasuki syurga dgn jalan jihad bertaruh nyawa. Ketika para putranya mencoba utk menghalanginya agar tidak pergi berperang justru ia mengadu kepada Rasulullah SAW tentang keinginannya masuk syurga dgn kakinya yg pincang. Akhirnya ia diijinkan ikut dalam perang Uhud. Ketika perang sedang berkecamuk Rasulullah SAW bersabda “Bersegeralah utk bangkit menuju syurga yg luasnya seluas langit dan bumi yg disiapkan bagi orang-orang yg bertaqwa“. Maka Amru bin Jamuh segera bangkit dgn kakinya yg pincang seraya berkata “Demi Allah aku akan bersegera kepadanya“. Kemudian ia berperang sampai terbunuh . . .
Sekarang marilah kita melihat gambaran lain dari generasi yg mulia ini tentang rasa takut mereka terhadap neraka. Mereka adl orang-orang yg menjadikan malam mereka penuh tangis dan harap agar terselamatkan dari neraka. Mereka adl sejauh-jauh manusia yg meninggalkan larangan Allah SWT.
Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. mempunyai seorang budak. Suatu malam budak tersebut datang kepadanya dgn membawa makanan. Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. sedang memakannya satu suapan budak tadi berkata “Mengapa engkau tidak menanyakan tentang makanan ini padahal biasanya engkau selalu menanyakannya?” Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. menjawab “Karena saya sangat lapar. Dari mana kau dapatkan makanan ini?” budak itu menjawab “Suatu saat pada masa jahiliyyah aku melewati suatu kaum kemudian meruqyah mereka dan mereka menjanjikan kepadaku. Tatkala lain waktu saya singgah ke tempat tersebut saya diberi hadiah“. Berkata Ash-Shiddiq “Celakalah kau . . . hampir saja kamu mencelakakanku“. ia meminta semangkuk air dan meminumnya sampai ia bisa memuntahkan makanan tadi. Orang yg melihat hal itu berkata “Semoga Allah merahmatimu. Hanya karan sesuap makanan itukah kau lakukan semua ini?” Beliau menjawa “Seandainya ia tidak bisa keluar kecuali bersama jiwaku pasti aku akan mengeluarkannya. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda ‘Setiap jasad yg tumbuh dari hart yg haram maka neraka adl lbh pantas baginya’. Maka aku takut jika tubuhku ini tumbuh dari sesuap makanan tersebut“.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a. suatu ketika menangis sehingga isterinya ikut menangis. Karena tangisan mereka berdua para tetangganya pun ikut menangis. setelah tangis reda isterinya Fatimah bertanya kepadanya “Wahai Amirul Mukminin apa yg membuatmu menangis?’. Ia menjawab “Saya membayangkan keadaan manusia nanti di hadapan Allah SWT. Sebagian masuk syurga dan lainnya masuk neraka“. Kemudian ia menjerit dan pingsan . . .
Abdullah bin Mubarak suatu malam pelita yg meneranginya padam. Setelah dihidupkan kembali ternyata jenggotnya sudah basah dgn air mata krn membayangkan kegelapan hari akhir nanti . . .
Demikian juga Abu Faruq pingsan setelah mendengar satu ayat Al-Qur’an.
Kondisi jiwa seperti inilah yg membuat mereka menjadi manusia yg paling zuhud dan wara’ terhadap dunia dan takut berbuat dosa walau sekecil apapun.
Ikuti lanjutannya “Kondisi Generasi Kiwari” dalam edisi yg akan datang…..
Oleh Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
sumber file al_islam.chm

dalil tentang pakaian ketika sholat

Syaikh Masyhur Hasan SalmanMuqadimahPakaian sebagai kebutuhan primer kita sehari-hari sangat layak diperhatikan terlebih ketika kita menghadap Allah di dalam sholat. Kita diharuskan berpakaian bersih suci dari segala jenis najis dan menutup aurat. Permasalahan bersih dari najis tentu kita sudah banyak yg memahaminya.
Tetapi tentang menutup aurat? Seperti bagaimanakah pakaian yg seharusnya dikenakan di waktu sholat? Pertanyaan-pertanyaan inilah yg akan kita kupas pada rubrik ahkam kali ini lewat tulisan Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam sebuah karya beliau yg berjudul Al Qaulul Mubin fi Akhtha`il Mushallin yg diterbitkan oleh penerbit Dar Ibni Qayim Arab Saudi hal 17-32. Beliau termasuk murid senior Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani pakar hadits abad ini yg karya-karyanya sudah beredar di seluruh dunia dan menjadi rujukan para thalibul ‘ilmi.Tasyabuh dalam BerpakaianSebuah riwayat dalam Shahih Muslim disampaikan dgn sanadnya sampai kepada Abu Utsman An Nahdi ia berkata Umar pernah mengirim surat kepada kami di Azerbaijan yg isinya: ‘Wahai Utbah bin Farqad! Jabatan itu bukan hasil jerih payahmu dan bukan pula jerih payah ayah dan ibumu. Karena itu kenyangkanlah kaum muslimin di negeri mereka dgn apa yang mengenyangkan di rumahmu(1) hindarilah bermewah-mewah memakai pakaian ahli syirik dan memakai sutera. Dalam Musnad Ali bin Ja’ad ada tambahan ..pakailah sarung rida’ dan sandal serta buanglah selop dan celana panjang.. pakailah pakaian bapak kalian Ismail hindarilah berni’mat- ni’mat dan hindarilah pakaian orang-orang asing. {Riwayat Ali bin Ja’ad dan Abu Uwanah dengan sanad shahih}.Waki’ dan Hanad meriwayatkan ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di dalam Az Zuhd beliau berkata Pakaian tidak akan serupa hingga hati menjadi serupa. .Ucapan beliau ini diambil dari sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari kaum itu. {HSR Abu Dawud Ahmad dan selainnya}.Dari sinilah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan rakyatnya agar membuang selop dan celana panjang serta memerintahkan mereka mengenakan pakaian yg biasa dikenakan orang Arab yaitu dgn tujuan memlihara kepribadian mereka agar jangan condong kepada orang-orang ‘ajam.Perbuatan tasyabuh yg dilakukan oleh umat ini kepada musuh-musuhnya merupakan tanda lemahnya iltizam mereka dan lemahnya akhlak mereka. Mereka telah ditimpa penyakit bunglon dan bimbang. Perjalanan mereka pun guncang seperti benda padat yg telah cair siap dileburkan dalam berbagai bentuk di tiap waktu. Bagaimana pun juga tasyabuh ini merupakan penyakit yg jelek. Perumpamaannya seperti seorang yg menisbatkan dirinya kepada orang lain selain ayahnya. Mereka tidak disukai oleh umat yg melahirkan mereka tidak pula diakui umat yg mereka tiru dan cintai.Mungkin timbul pertanyaan: Kenapa para ulama tidak berupaya meluruskan kebiasaan atau adat ini sebelum menjadi perkara besar? Jawabannya: Sesungguhnya para ulama telah berupaya keras meluruskannya akan tetapi dalam berhadapan dgn kenyataan bahwa yg mayoritas mengalahkan yg minoritas sehingga upaya para ulama tersebut tidak banyak memberikan hasil. Banyak dari kaum muslimin merasa pada posisi yg sulit di tengah-tengah adat dan pakaian kaum musyirikn padahal di antara mereka ada yg dikenal alim. Mereka inilah yg menjadi contoh jelek bagi kaum muslimin wal ‘iyadzu billah.(2)Lebih parah lagi di antara mereka ada yg meninggalkan shalat hanya krn khawatir pantalonnya berkerat-kerut hingga merusak penampilan. Hal ini banyak kita dgn dari mereka.
Karena itu di antara upaya menghidangkan sunnah di hadapan umat kami bawakan beberapa kriteria pakaian sholat yg sepatutnya diperhatikan seorang muslim supaya terhindar dari hal-hal tersebut di atas.Pakaian dalam SholatKriteria tersebut adalah:1. Tidak ketat sehingga menggambarkan bentuk aurat.Mengenakan pakaian ketat jelas tidak disukai syariat dan kedokteran krn efeknya berbahaya bagi badan. Bahkan ada yg saking ketatnya hingga membuat pemakainya tidak dapat sujud.
Bila krn mengenakannya seseorang meninggalkan sholat maka jelas pakaian semacam ini haram. Dan memang kenyataan menunjjukkan bahwa mayoritas orang yg mengenakan pakaian semacam ini adl orang-orang yg tidak sholat.Demikian pula banyak di antara kaum muslimin di jaman ini yg menunaikan sholat dgn pakaian yg membentuk kedua kemaluan atau membentuk salah satunya. Al Hafizh Ibnu Hajar meceritakan sebuah riwayat dari Asyhab tentang seseorang yg sholat hanya dgn menggunakan celana panjang beliau berkata Hendaknya ia mengulangi sholatnya ketika itu juga kecuali bila celananya tebal. Sedangkan sebagian ulama Hanafiyah memakruhkan hal itu. Padahal saat itu keadaan celana panjang mereka sangat longgar lalu bagaimana dgn celana pantalon yg sangat sempit?!Syaikh Al Albani berkata Celana pantalon mengandung dua cela.Pertama orang yg menggunakannya berarti bertasyabuh dgn kaum kafir. Pada mulanya kaum muslimin mengenakan celana panjang yg luas dan longgar yg sekarang masih digunakan oleh sebagian orang di Suriah dan Libanon. Mereka sama sekali tidak mengenal celana pantalon kecuali setelah mereka ditaklukkan dan dijajah. Kemudian setelah kaum penjajah takluk dan mengundurkan diri mereka meninggalkan jejak yg buruk lalu dgn kebodohan dan kejahilan kaum muslimin melestarikan peninggalan mereka tadi.Kedua celana pantalon dapat membentuk aurat sedangkan aurat laki-laki adl dari lutut hingga pusar. Ketika sholat seorang muslim seharusnya amat jauh dari keadaan bermaksiat kepada RabbNya namun bagi mereka yg menggunakan celana pantalon anda akan melihat kedua belahan pantatnya terbentuk bahkan dapat membentuk apa yg ada di antara kedua pantatnya tersebut. Bagaimana muungkin orang yg dalam keadaannya semacam ini dikatakan sholat dan berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin?!Anehnya banyak di antara pemuda muslim yg mengingkari wanita-wanita berpakaian ketat atau sempit krn membentuk bodinya sementara mereka sendiri lupa akan diri mereka. Mereka sendiri terjatuh pada hal yg diingkari sebab tidak ada perbedaan antara wanita yg berpakaian sempit dan membentuk tubuhnya dgn pria yg memakai celana pantalon yg juga membentuk pantatnya. Pantat pria dan pantat wanita keduanya sama-sama aurat. Karena itu wajib bagi para pemuda utk segera menyadari musibah yg telah melanda mereka kecuali orang yg dipelihara Allah namun mereka sedikit(3).Adapun bila celana pantalon tersebut luas maka sah sholat dengannya. Namun akan lbh utama bila di atasnya ada gamis yg menutup antara pusar hingga lutut atau lbh rendah hingga pertengahan betis atau mata kaki. Yang demikian lbh sempurna dalam menutup aurat(4). {Al Fatawa 1/69 oleh Syaikh bin Baz}.2. Tidak tipis dan tidak transparanSebagaimana makruh nya sholat dgn pakaian ketat yg menggambarkan bentuk aurat maka demikian pula tidak boleh sholat dgn pakaian yg tipis yg tampak secara transparan apa yg ada di baliknya seperti pakaian sebagian orang yg gila mode di jaman ini mereka poles apa yg dianggap aib oleh syariat hingga tampak indah. Mereka adl tawanan- tawanan syahwat budak-budak adat dan mereka mempunyai propagandis yg menyerukan propaganda-propaganda menawarkan mode-mode baru Inilah yg terbaru inilah yg trendi tidak kolot dan kuno(5). Termasuk dalam bab ini adl sholat dgn mengenakan pakaian tidur piyama . Sebuah riwayat yg dibawakan oleh Imam Bukhari di dalam Shohihnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Pernah ada seseorang yg datang menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya tentang sholat dgn mengenakan satu pakaian. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab Bukankah tiap kalian mampu mendapatkan dua pakaian!? Kemudian seseorang bertanya kepada Umar lalu Umar menjawab Bila Allah memberikan kelapangan seseorang hendaknya ia sholat dgn sarung dan jubah atau sarung dan gamis atau sarung dan mantel atau celana panjang dan gamis atau celana panjang dan jubah atau celana panjang dan mantel atau celana pendek dan mantel atau celana pendek dan gamis . .Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu pernah melihat Nafi’ sholat sendiri dgn mengenakan satu pakaian. Lalu beliau berkata padanya Bukankah saya memberimu dua pakaian? Nafi’ menjawab Benar. Ibnu Umar bertanya pula Apakah kamu pergi ke pasar dgn mengenakan satu pakaian? Nafi’ menjawab Tidak. Ibnu Umar berkata Allah yg lbh berhak bagimu berhias untukNya. (6)Demikian pula orang yg sholat dgn pakaian tidur tentunya ia malu pergi ke pasar dengannya krn tipis dan transparan.Ibnu Abdil Barr dalam At Tahmid 6/369 mengatakan Sesungguuhnya ahli ilmu menganggap mustahab bagi seseorang yg mampu dalam pakaian agar berhias dgn pakaian minyak wangi dan siwaknya ketika sholat sesuai dgn kemampuannya. Para fuqaha dalam membahas syarat-syarat sahnya sholat yaitu pada pembahasan Menutup Aurat mereka mengatakan Syarat bagi pakaian penutup adl tebal tidaklah sah bila tipis dan mengesankan warna kulit. Semua ini berlaku bagi pria dan wanita baik pada sholat sendiri ataupun sholat berjamaah.
Dengan demikian siapa saja yg terbuka auratnya padahal ia mampu menutupnya maka sholatnya tidak sah walaupun sholat sendiri di tempat yg gelap krn sudah merupakan ijma’ akan wajibnya menutup aurat di dalam sholat.Allah ta’ala berfirmanيَا بَنِيْْ آدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yg indah di tiap masjid. .Yang dimaksud dgn zinah pada ayat di atas yaitu pakaian sedangkan yg dimaksud dgn masjid yaitu sholat. Artinya Pakailah pakaian yg menutup aurat kalian ketika sholat. Ucapan Umar radhiyallahu ‘anhu yg menyebutkan jenis-jenis pakaian yg menutup atau yg banyak dipakai tersebut merupakan dalil akan wajibnya sholat dgn pakaian yg menutup aurat. Beliau menggabungkan yg satu dgn yg lain bukan berarti pembatasan akan tetapi yang satu bisa mengganti kedudukan yg lain. Adapun mengenakan satu pakaian hanya boleh dilakukan dalam keadaan yg mendesak atau terpaksa. Di sana juga terdapat faidah bahwa sholat dgn dua pakaian itu lbh afdhol daripada dgn satu pakaian. Dan Al Qodhi Iyadh telah menegaskan ijma’ dalam hal ini.(7)Berkata Imam Syafi’i rahimahullah Bila seseorang sholat dgn gamis yg transparan(8) maka sholatnya tidak sah. (9)Beliau juga berkata Yang lbh parah dalam hal ini adl kaum wanita bila sholat dgn daster dan kudung sedangkan daster menggambarkan bentuk tubuhnya. Saya lbh suka wanita tersebut sholat dgn mengenakan jilbab yg lapang di atas kudung dan dasternya sehingga tubuh tidak terbentuk dgn daster tadi. (10)Untuk itu hendaknya kaum wanita tidak sholat dgn pakaian yg transparan seperti pakaian dari nilon dan sejenisnya krn bahan jenis ini walaupun luas dan menetup seluruh tubuh namun selalu terbuka atau membentuk. Dalilnya adl sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamسَيَكُوْنُ فِي آخِرِ أُمَّتِيْ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ.. Akan ada kelak pada umatku wanita-wanita yg berpakaian tetapi telanjang.. {HR Malik dan Muslim}.Ibnu Abdil Barr berkata Yang dimaksud oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adl wanita yg mengenakan pakaian tipis atau mini yg membentuk tubuh dan tidak menutup auratnya. Mereka disebut berpakaian tetapi pada hakekatnya telanjang. (11)Diriwayatkan dari Hisyam bin Urwah sebuah riwayat sebagai berikut Suatu hari Al Mundzir bin Az Zubair datang dari Iraq lalu ia mengirim oleh-oleh kepada Asma` pakaian tipis dan antik dari Quhistan dekat Khurasan setelah ia mengalami kebutaan. Ia pun lantas meraba pakaian tersebut dengan tangannya kemudian berkata Ah! Kembalikan pakaian ini. Pengantarnya merasa tidak enak dan berkata Wahai ibu! Sungguh pakaian ini tidak transparan. Asma` berkata Pakaian ini walaupun tidak transparan akan tetapi membentuk. (12)Kata As Safarini dalam Gidza`ul Albab Bila pakaian itu tipis hingga tampak aurat si pemakainya baik lelaki maupun wanita maka dilarang dan haram mengenakannya. Sebab secara syariat dianggap tidak menutup aurat sebagaimana diperintahkan. Hal ini tidak diperselisihkan lagi. (13)Kata Imam As Syaukani dalam Nailul Author 2/115 Wajib bagi wanita menutup badannya dengan pakaian yg tidak membentuk tubuuh inilah syarat dalam menutup aurat. Sebagian fuqoha menyebutkan Pakaian yg transparan pada sekilas pandangan keberadaannya seperti tidak ada. Karena itu tidak ada sholat bagi yg mengenakannya {untuk sholat}. Sebagian yg lain menegaskan bahwa pakaian para salaf tidak ada yg terbuat dari bahan yang membentuk aurat krn tipis sempit atau yg lain.3. Tidak membuka auratAda beberapa golongan yg terkadang sholat dgn aurat terbuka di antaranya:a. Mereka yg mengenakan celana panjang pantalon yg membentuk aurat atau mengesankannya atau transparan dgn kemeja pendek. Ketika ruku’ dan sujud kemeja tertarik ke atas sedang celana tertarik ke bawah. Dengan demikian punggung dan sebagian auratnya tampak. Hal ini kadangkala terjadi bila tidak bisa dikatakan sering. Perhatikanlah aurat mughalladhah nya tampak ketika ia ruku’ atau sujud di hadapan Rabbnya.
Na’udzubillah! Kita berlindung kepada Allah dari kebodohan sebab bila dalam keadaan demikian sedang aurat terbuka jelas mengantarkan pada batalnya sholat. Lantas siapa kambing hitamnya? Celana pantalon dan memang celana pantalon asalnya dari negeri kafir.(14)Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin dalam menanggapi beberapa kesalahan yg dilakukan sebagian kaum muslimin di dalam sholat beliau berkata Banyak di antara manunsia tidak lagi mengenakan pakaian yg luas dan lapang mereka hanya mengenakan celana panjang dan kemeja pendek yg menutupi dada dan punggung. Bila mereka ruku’ kemeja tertarik hingga tampak sebagian punggung dan ekornya yg merupakan aurat dan dilihat oleh orang yg ada di belakangnya. Padahal terbukanya aurat merupakan sebab batalnya sholat.(15)b. Wanita yg tidak menjaga pakaian dan tidak memperhatikan menutup seluruh badan sedang ia berada di hadapan Robbnya baik krn bodoh malas atau acuh tak acuh. Padahal sudah menjadi kesepakatan bahwa pakaian yg mencukupi bagi wanita utk sholat adl baju panjang dan kerudung.(16)Kadang-kadang seorang wanita sudah memulai sholat padahal sebagian rambut atau lengan atau betisnya masih terbuka. Maka ketika itu –menurut jumhur ahli ilmu- wajib ia mengulangi sholatnya. Dalilnya adl hadits yg diriwayatkan oleh Sayidah Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaلاَيَقْبَلُ اللهُ صَلاَة حَائِضٍ إِلاَّ بِخِمَارٍ Allah tidak menerima sholat wanita yg telah haid kecuali dgn kerudung. {HSR Ahmad Abu Dawud Tirmidzi dan yg lain}.Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya sebagai berikut Pakaian apa yg pantas dikenakan wanita utk sholat? Beliau menjawab Kerudung dan baju panjang yg longgar sampai menutup kedua telapak kaki. (17) .Imam Ahmad juga pernah ditanya Berapa banyak pakaian yg dikenakan wanita utk sholat? Beliau menjawab Paling sedikit baju rumah dan kudung dgn menutup kedua kakinya dan hendaknya baju itu lapang dan menuutup kedua kakinya. Imam Syafi’i berkata Wanita wajib menutup seluruh tubuhnya di dalam sholat kecuali dua telapak tangan dan mukanya. Beliau juga berkata Seluruh tubuh wanita adl aurat kecuali telapak tangan dan wajah.
Telapak kaki pun termasuk aurat. Apabila di tengah sholat tersingkap apa yg ada antara pusar dan lutut bagi pria sedang bagi wanita tersingkap sedikit dari rambut atau badan atau yg mana saja dari anggota tubuhnya selain yg dua tadi dan pergelangan –baik tahu atau tidak- maka mereka harus mengulang sholatnya. Kecuali bila tersingkap oleh angin atau krn jatuh lalu segera mengembalikannya tanpa membiarkan walau sejenak. Namun bila ia membiarkan sejenak walau seukuran waktu utk mengembalikan maka ia tetap harus mengulanginya. (18) Oleh krn itu wajib bagi wanita muslimah memperhatikan pakaian mereka di dalam sholat lebih-lebih di luar sholat.Banyak juga dari mereka yg sangat memperhatikan bagian atas badan yaitu kepala. Mereka menutup rambut dan pangkal leher tapi tidak memperhatikan anggota badan bagian bawah dengan kaos kaki yg sewarna dgn kulit sehingga tampak semakin indah. Terkadang ada di antara mereka yg sholat dgn penampilan semacam ini. Hal ini tidak boleh. Wajib bagi mereka utk segera menyempurnakan hijab sebagaimana yg diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Teladanilah wanita-wanita Muhajirin ketika turun perintah Allah agar mengenakan kerudung mereka segera merobek korden-korden yg mereka punyai lalu memakainya sebagai kerudung. Tetapi sekarang kita tidak perlu menyuruh mereka merobek sesuatu cukup kita perintahkan mereka memanjangkan dan meluaskannya hingga menjadi pakaian yg benar-benar menutup.(19)Mengingat telah meluasnya pemakaian jilbab pendek di kalangan muslimah di beberapa negeri yang berpenduduk muslim maka saya memandang penting utk menjelaskan secara ringkas bahwa kaki dan betis wanita adl aurat. Ucapan saya wabillahit taufiq adl sebagai berikut:Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.. وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ .. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yg mereka sembunyikan. .Sisi pendalilan dari ayat ini adl bahwa wanita juga wajib menutup kaki sebab bila dikatakan tidak maka alangkah mudahnya seseorang menampakkan perhiasan kakinya yaitu gelang kaki sehingga tidak perlu ia memukulkan kaki utk itu. Akan tetapi hal itu tidak boleh dilakukan karena menampakkannya merupakan penyelisihan terhadap syariat dan penyelisihan yg semacam ini tidak mungkin terjadi di jaman risalah. Karena itu seseorang dari mereka melakukan tipu daya dgn cara memukulkan kakinya agar kaum pria mengetahui perhiasan yg disembunyikan. Maka Allah pun melarang mereka dari hal itu.Sebagai penguat dari penjelasan saya Ibnu Hazm berkata Ini adl nash yg menunjukkan bahwa kaki dan betis termasuk aurat yg mesti disembunyikan dan tidak halal menampakkannya. (20)Adapun penguat dari sunnah adl hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata:قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ {رواه البخاري و زاد غيره: فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: فَكَيْفَ يَصْنَعُ النِّسَاءُ بِذُيُوْلِهِنَّ؟} قَالَ: يُرْخِيْنَ شِبْرًا. قَالَتْ: إِذَنْ تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ. قَالَ: فَيُرْخِيْنَهُ ذِرَاعًا لاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: رَخَّصَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم لأُِمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ شِبْرًا ثُمَّ اسْتَزَدْنَهُ فَزَادَهُنَّ شِبْرًا فَكُنَّ يُرْسِلْنَ إِلَيْنَا فَنَذْرَعُ لَهُنَّ ذِرَاعًا. {رواه الترمذي و أبو داود و ابن ماجه و هو صحيح انظر سلسلة الأحاديث الصحيحة رقم 460}Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda Siapa yg melabuhkan pakaiannya krn sombong Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bertanya Apa yg harus diperbuat oleh wanita terhadap ujung pakaian mereka? Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab Turunkan sejengkal. Ummu Salamah berkata Bila demikian kakinya akan tersingkap. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda Turunkan sehasta jangan lbh dari itu. Dalam riwayat lain: Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan pada ummahatul mu`minin sejengkal dan mereka minta tambah maka Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkannya. {HSR. Tirmidzi Abu Dawud Ibnu Majah} .Faidah dari riwayat ini adl bahwa yg dibolehkan adl sekitar satu hasta yaitu dua jengkal bagi tangan ukuran sedang.Imam Al Baihaqi berkata Riwayat ini merupakan dalil tentang wajibnya menutup kedua punggung telapak kaki bagi wanita. (21)Ucapan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan dan pertanyaan Ummu Salamah: Apa yg harus diperbuat wanita terhadap ujung pakaiannya? setelah ia mendengar ancaman bagi orang yg melabuhkan pakaiannya semua ini mengandung sanggahan terhadap anggapan bahwa hadits-hadits yg mutlak mengenai ancaman bagi pelaku isbal itu ditaqyid oleh hadits lain yg tegas yaitu bagi yg melakukannya krn sombong.Anggapan ini terbantah krn sekiranya benar demikian maka pertanyaan Ummu Salamah yang meminta kejelasan hukum bagi wanita itu tidak ada maknanya. Akan tetapi Ummu Salamah memahami bahwa ancaman itu bersifat mutlak berlaku bagi orang yg sombong dan yg tidak. Karena pemahaman beliau yg demikian maka beliau menanyakan kejelasan hukumnya bagi wanita sebab wanita dituntut utk berlaku isbal guna menutup aurat yaitu kaki. Dengan demikian jelas bagi beliau bahwa ancaman itu tidak berlaku bagi wanita tetapi khusus bagi lelaki dan hanya dalam pengertian ini.’Iyadl rohimahullah telah menukil adanya ijma’ bahwa larangan itu hanya berlaku bagi kaum pria tidak bagi kaum wanita krn adanya taqrir Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam atas pemahaman Ummu Salamah. Larangan yg dimaksud adl larangan isbal.Walhasil bagi pria ada dua keadaan:1. Keadaan yg mustahab yaitu memendekkan sarung hingga pertengahan betis.2. Keadaan jawaz yaitu melebihkannya hingga di atas mata kaki.Adapun bagi wanita juga ada dua keadaan:1. Keadaan mustahab yaitu melebihkan sekitar satu jengkal dari keadaan jawaz bagi pria.2. Keadaan jawaz yaitu melebihkannya sekitar satu hasta.(22)Sunnah inilah yg dijalankan oleh wanita-wanita di jaman Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan jaman-jaman selanjutnya.Dari sinilah kaum muslimin di masa-masa awal menetapkan syarat bagi ahli dzimmah harus tersingkap betis dan kakinya supaya tidak serupa dgn wanita-wanita muslimah. Hal ini sebagaimana diterangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim.Termasuk pula orang-orang yg terjerumus dalam kesalahan ini yaitu memulai sholat sedang aurat tersingkap adl orang tua yg memakaikan anak mereka celana pendek dan menyertakannya sholat di masjid. Padahal Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaمُرُوْهُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعٍ Perintahkan mereka sholat ketika mereka berumur tujuh tahun. {HSR. Ibnu Khuzaimah Hakim Baihaqi dan yg lain}.Sedang tidak diragukan lagi bahwa perintah ini mencakup juga perintah menunaikan syarat- syarat dan rukun-rukunnya. Perhatikanlah jangan sampai anda termasuk orang-orang yg lalai.Demikianlah beberapa perkara yg harus kita perhatikan dalam hal pakaian dalam sholat berikut beberapa kesalahan yg terjadi. Namun masih ada beberapa hal yg berkaitan dgn syarat- syarat pakaian dalam sholat di antaranya tidak musbil tidak bergambar dan bukan pakaian yg dicelup merah.Wallahu a’lam.Diterjemahkan oleh Muhammad Rusli dgn sedikit tambahan—————————————-(1) Abu Awanah di dalam Shahihnya menerangkan sisi lain dari sebab ucapan Umar ini yaitu mengatakan di permulaannya Utbah bin Farqad pernah mengutus seorang budak utk membawa kiriman kepada Umar yg berisi berbagai macam makanan yg di atasnya terdapat permadani dari bulu. Ketika Umar melihatnya beliau berkata Apakah kaum muslimin kenyang dengan makanan ini di negeri mereka? Budak itu menjawab Tidak. Umar berkata Saya tidak suka ini. Lalu beliau menulis surat kepadanya..(2) Syaikh Abu Bakar Al Jaza`iri dalam kitabnya At Tadkhin memberi rincian sebagai berikut Di antara adat-adat rusak itu ialah memelihara anjing di dalam rumah wanita muslimah membuka wajah mereka kaum pria mencukur jenggot mengenakan celana pantalon ketat tanpa gamis atau sarung di atasnya membuka kepala beramah tamah dgn ahli fasik dan munafik tidak beramar ma’ruf nahi munkar dgn slogan ‘kebebasan berfikir’ dan ‘hak asasi manusia’. (3) Dari kaset rekaman beliau ketika menjawab pertanyaan Abu Ishaq Al Huwaini Al Mishri direkam di Urdun pada bulan Muharram tahun 1407 H lihat tulisan beliau: Syarat keempat dari syarat hijab wanita muslimah yaitu agar luas atau longgar dan tidak sempit yaitu dalam kitab Hijab Mar`atil Muslimah. Maka kesalahan yg disebut di atas terkena pada pria dan wanita Namun pada pria hal itu lbh tampak krn mayoritas kaum muslimin di jaman ini sholat menggunakan pantalon. Bahkan kebanyakan mereka sholat dgn pantalon yg sempit laa haula walaa quwwata illa billah. Padahal Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang sholat dgn mengenakan celana panjang tanpa ditutupi jubah sebagaimana dalam riwayat Abu Dawud dan Hakim dgn sanad hasan. Hal ini diterangkan dalam Shahih Jami’ush Shoghir 6830.(4) Dengan ini pula Lajnah Ad Daimah menjawab pertanyaan seputar hukum sholat dgn celana pantalon pada Idaratul Buhuts no 2003 sebagai berikut Bila pakaian tersebut longgar hingga tidak menggambarkan aurat dan tebal hingga tidak transparan maka boleh sholat dengannya. Adapun bila transparan tampak semua yg ada di baliknya maka batal sholat dengannya. Sedang bila pakaian tersebut hanya sekedar membentuk aurat maka makruh sholat dengannya kecuali bila tidak ada yg lain.. Wabillahit taufiq.(5) Fatawa Rasyid Ridha 5/2056(6) Riwayat Thohawi dalam Syarah Ma’anil Atsar(7) Fathul Bari 1/476 Majmu’ 3/181 Nailul Author 2/78 84(8) As Sa’aty dalam Fathul Rabbani 18/236 berkata Gamis adl pakaian berjahit mempunyai dua lengan dan saku yaitu yg hari ini dikenal dgn jalabiyah merupakan pakaian yg lebar menutup seluruh badan dari leher ke mata kaki atau ke pertengahan betis. Dahulu pakaian ini digunakan sebagai pakaian dalam. (9) Al Umm 1/78(10) Al Umm 1/78(11) Tanwirul Hawalik 3/103(12) Riwayat Ibnu Sa’ad dalam At Thobaqotul Kubra 8/184 dgn sanad shahih.(13) Ad Dinul Kholish 6/180(14) Tanbihat Hammah ‘ala malabisil muslimin al-yaum hal. 28(15) Majalah Al Mujtama’ no. 855(16) Bidayatul Mujtahid 1/115 Al Mughni 1/603 Al Majmu’ 3/171 dan I’anatut Tholibin 1/285.
Maksudnya menutup badan dan kepalanya. Jika pakaiannya lapang sehingga dgn sisanya ia menutup kepala maka hal ini boleh. Disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya 1/483 secara mu’allaq dari Ikrima ia berkata Sekiranya seluruh tubuh sudah tertutup dgn satu pakaian niscaya hal itu sudah mencukupi. (17) Masail Ibrohim bin Hanif lil Imam Ahmad no. 286(18) Al Umm 1/77(19) Hijab Al Mar`ah Al Muslimah hal. 61.(20) Al Muhalla 3/216(21) Tirmidzi berkata dalam Al Jami’ 4/224 Kandungan hadits ini yaitu adanya rukhshoh bagi wanita utk melabuhkan kain sarung krn hal itu lbh sempurna dalam menutup. (22) Fathul Bari 10/259
sumber : file chm Darus Salaf 2

belief in allah

Belief in Allah comprises four aspects:
The First Aspect: The belief in Allah’s existence. This is established by:
  1. Al-Fitrah (the natural pure inclination towards the truth)
  2. Al-Aql (reason and analysis)
  3. Ash-Sharee’ah (revelation and scripture)
  4. Al-Hiss (physical senses).
The proof of al-Fitrah concerning Allah’s existence is that every created being innately believes in his or her Creator without any preceding instruction dogma or thought. No one deviates from this natural and innate belief except due to external corrupt influences which make his or her heart swerve and depart from belief as the Prophet said:
Each child is born in a state of Fitrah but his parents make him into a Jew or Christian or Magian (Zoroastrian). (Reported by al-Bukhari)
The proof of al-Aql (reason and analysis) concerning Allah’s existence is that the things that we find in past and present existence must have had a Creator and Originator since they could not have created themselves and they could not have come into existence by mere chance accident or coincidence. The reason they could not have created themselves is that before their existence they were nothing; so how can nothing create itself i.e. something essentially deficient and impotent? They couldn’t have been created by mere chance accident or coincidence because every new event must have its prior causes that made it occur. We also see this creation with its amazing and magnificent organization harmony and cohesion and with the interrelations between the causes and effects. All this makes it completely unbelievable that it came into being by mere chance accident or coincidence. How can something that came into existence by mere accident or coincidence become organized and coherent in the process of further development?
If all this creation could not have created itself nor been created by chance then it must have a Creator and Originator: this is Allah the Lord and Sustainer of the Universe. Allah the Most Exalted has mentioned this proof by reason and analysis in the Qur’an in Surah at-Toor The Mountain when He said: Were they (humans) created by nothing or were they creators themselves? [Surah at-Toor (52):35]
This verse indicates that since men were not created without a Creator nor did they create themselves it must be that they have a Creator who is Allah the most Blessed and Exalted. For this reason when Jubair ibn Mut’im () heard the Messenger () recite this Surah (at-Toor) from the Qur’an when he reached the passage:
Were they created by nothing or were they creators themselves? Or did they create the heavens and the earth? Nay but they have no firm belief. Or are the Treasures of your Lord with them? Or are they the tyrants with authority to do as they like? [Surah at-Toor (52):35-37]
…he said while still a polytheist at that time:
My heart almost flew out of me (from the common sense of the verse).
And in another version of the narration he said:
This was the first time that Īman entered my heart. (Reported by al-Bukhari)
A practical example clarifies this line of argument. If someone tells you about a huge palace surrounded by beautiful gardens with rivers flowing in them furnished completely with all the basic necessities and with the best beds and cushions and decorated with all kinds of luxuries. Then after all this he says to you “This palace with all its beauty has come into existence by itself or it came into existence by mere chance and coincidence without any builder or contractor” immediately you would reject his statement as preposterous nonsense and you would consider his line of argument as most ridiculous. Therefore can anyone with reason say that it is possible that this universe with all its awe inspiring expanses of galaxies and amazing order could have brought itself into existence or that it could have come into existence without an Originator or Creator?
The proof of ash-Sharee’ah (revelation and scripture) concerning Allah’s existence is that all of the divinely revealed Scriptures confirm His existence. The laws and instructions that Allah revealed in these scriptures which address the needs and affairs of His creation are evidence that they came from an Omniscient and Sublime Sovereign Lord who knows everything that is best for His creatures. The fact that our observations agree to the information about natural laws contained within them is an evidence that they are from a Lord Sovereign Supreme who is able to bring into being what he informed.
The proofs of al-Hiss (physical sense) concerning Allah’s existence are from two directions. The first is that we witness and see that Allah answers those who supplicate to Him and call out to Him in distress. This proves decisively that Allah exists. Allah said:
And (remember) Nooh when he cried (to us) aforetime; We listened to his supplication. [Surah al-Anbiyaa’ (21):76]
And Allah said:
(Remember) when you sought help from your Lord and He answered you. [Surah al-Anfaal (8):9]
In an authentic hadeeth reported by al-Bukhari it is reported that Anas bin Malik may Allah be pleased with him said:
While the Prophet () was delivering the sermon on a Friday a Bedouin stood up and said “O Allah’s Messenger! Our possessions are being destroyed and the children are hungry; please supplicate to Allah (for rain).” So the Prophet () raised his hands (and supplicated to Allah for rain). At that time there was no trace of any cloud in the sky. But by Him in Whose Hands is my soul clouds gathered like mountains and before he got down from the pulpit I saw the rain falling on his (the Prophet’s) beard. (It rained all week long.) That Bedouin or another man stood up on the next Friday (during the sermon) and said “O Allah’s Messenger! Houses have collapsed and our possessions and livestock have drowned; please supplicate to Allah for us (to stop the rain). So the Prophet () raised his both hands and said “O Allah! Around us and not on us.” So in whatever direction he pointed his hands the clouds dissipated and cleared away.
We continue to see the evidence of people’s prayers and supplications being answered - for those who are truly sincere and truthful in their prayers and fulfill the conditions for acceptance.
The second proof concerning sense perception is that the prophets of Allah brought various miracles that many people either witnessed directly or heard about (from reliable sources). These miracles constitute positive and irrefutable proofs about the existence of the one who sent them - Allah the Most Exalted - since they are actions (and miracles) outside the ability of humans that Allah commands to happen through His prophets to help them and at the same time give them success in their mission
An example of one of these miracles is the sign that Allah gave to Musaa (). Allah ordered him to strike the sea with his stick and the sea parted into twelve dry sections with a mass of water like a mountain on the side of each section. Allah the Most Exalted says in the Qur’an:
Then We inspired Musaa (saying): “Strike the sea with your stick.” And it parted and each separated part (of the sea water) became like a huge firm mass of a mountain. [Surah al-Anbiyaa’ (26):63]
A second example is from the miracles of ‘Eesaa () who was given the power by Allah to resurrect the dead in their graves back to life. Allah the Most Exalted informs us in the Qur’an that he (‘Eesaa) said:
…and I bring the dead to life by Allah’s leave. [Surah Aali ‘Imraan (3):49]
And also the verse:
And when you (O ‘Eesaa) brought forth the dead by My Permission. [Surah al-Maa’idah (5):110]
A third example is from the miracles of Muhammad (). The tribe of Quraish asked him to show them a miracle as a proof of his prophethood so the Prophet () pointed to the moon and it split into two pieces which people saw in amazement. Allah the Most Exalted said about this incident:
The Hour has drawn near and the moon has been cleft and they see a sign yet they turn away and say: “This is but continuous sorcery.” [Surah al-Qamar (54):1-2]
The Second Aspect: is the belief in Allah’s “Rububiyyah” (Lordship) that He is the “Rubb” without partner peer or helper. The “Rubb” is the one who creates owns and commands the universe. There is no Creator and Sustainer except Him. There is no supreme King and Sovereign except Him. There is no ultimate Commander and Legislator except Him. Allah the Most Exalted said:
Surely to Him is the Creation and Commandment. [Surah al-A’raaf (7):54]
And Allah said
Such is Allah your Lord; His is the Kingdom. And those whom you invoke or call upon instead of Him do not own even the little membrane stretched over the date-stone. [Surah al-Faatir (35):13].
In history we find that only a very few people have disbelieved in Allah’s Lordship The ones who denied openly what they really believed deep in their hearts were the arrogant and insolent people such as by way of an example the Pharaoh when he said to his people as mentioned in the Qur’an:
I am your lord most high. [Surah an-Naazi‘aat (79):24]
And when he said:
O chiefs! I do not know that you have a god other than me! [Surah al-Qasas (28):38]
We know that what he said was not his true belief because Allah said
And they denied them wrongfully and arrogantly even though they were convinced (of the truth) in their own selves. [Surah an-Naml (27):14].
Musaa () said to Pharaoh as related by Allah:
Verily you know that these Signs have been sent down by none but the Lord of the heavens and the earth as clear (evidences). And I think you are indeed O Pharaoh doomed to destruction. [Surah al-Israa (17):102].
The Arab disbelievers and polytheists used to confirm Allah’s Lordship even though they associated others with Him in worship. Allah the Most Exalted said:
Say: “Whose is the earth and whosoever is therein? If you know!” They will say: “It is Allah’s!” Say: “Will you not then remember?” Say: “Who is the Lord of the seven heavens and the Lord of the Great Throne?” They will say: “Allah!” Say: “Will you not then fear Allah?” Say: “In Whose Hands is the sovereignty of everything? And He protects everything while against Him there is no protector if you know?” They will say: “(All this belongs) to Allah.” Say: “How then are you deceived and turn away from the truth)?” [Surah al-Mu’minoon (23):84-89]
And also Allah said:
If you ask them: “Who has created the heavens and the earth?” They will surely say: “The All-Mighty the All-Knower created them.” [Surah az-Zukhruf (43):9]
In another verse Allah says:
And if you ask them who created them they will surely say: “Allah.” How then are they turned away (from His worship)? [Surah az-Zukhruf (43):87].
The command of Allah encompasses two kinds of commands: those related to universal natural affairs of the created universe and those related to legal affairs of religious law and revealed scriptures. He commands and decrees as He wills in accordance to His Omniscient Wisdom. He is the Ruler who gives the Commandment to legislate and establish the laws pertaining to all aspects of worship and human dealings according to His Wisdom. Anybody who believes that someone else besides Allah has the right to legislate and establish laws pertaining to the aspects of worship and to be the Ruler and Judge of human dealings commits “Shirk”1 with Allah and he has not realized “Īman” (faith).
The Third Aspect: The belief in Allah’s “Uluhiyyah” meaning that He alone is God He alone has “Divinity” and “Godhead” making only Him worthy of worship.
The meaning of the word “ilaah”2 means that which is worshipped [in truth or falsehood rightly or wrongly] with ultimate love and supreme glorification Allah the Most Exalted said:
And your ilaah is the one ilaah there is no true God worthy of worship but He the Most Beneficent (whose Mercy encompasses everything) the Most Merciful. [Surah al-Baqarah (2):163]
And Allah the Most Exalted said:
Allah bears witness that none has right to be worshipped but He and the angels and those having knowledge (also give this witness); (this fact is) established on justice. None has the right to be worshipped but He the All-Mighty the All-Wise. [Surah Aali ‘Imraan (3):18]
All other gods besides Allah are false gods and giving to anyone besides Allah the trait of “divinity” “Godhead” and worthiness to be worshipped is false and void. Allah the Most Exalted said:
That is because Allah is the Truth (the Only True and Real God) and what they (the disbelievers) invoke besides Him is falsehood. And verily Allah is the Most High the Most Great. [Surah al-Hajj (22):62].
Calling them gods does not entitle them to the right of “Uluhiyyah.” Allah said the following in description about the pagan Arab deities “al-Laat” “al-’Uzzaa” and “Manaat”:
They are but names which you have named you and your fathers for which Allah has sent down no authority. [Surah an-Najm (53):23]
Allah related what Joseph said to his two companions in jail (about these false deities):
O my two companions! Are many different lords better or Allah the One the Irresistible? You worship besides Him not except [mere] names you have named them you and your fathers for which Allah has sent down no authority. [Surah Yusuf (12):39-40]
For this reason the Messengers may Allah’s peace and blessings be upon them would say to their respective communities:
Worship Allah! You have no other God but Him. [Surah al-Mu’minoon (23):23]
But the idolaters and polytheists refused to obey this message and took false gods as their objects of worship seeking refuge aid and victory from them. But Allah has proven that their worship is false invalid and void by two wise lines of argument:
The first line of argument: These idols and false gods that the disbelievers take for worship do not have any attributes that qualify them to be gods: they are created matter and do not create; they cannot bring any benefit for those who worship them nor can they fend off any harm; they cannot give life or death; they do not own anything in the kingdom of the heavens and earth nor do they have the least partnership in its dominion. In this context Allah the Most Exalted said:
They have taken besides Him other gods that created nothing but are themselves created who posses neither hurt nor benefit to themselves nor possess any power (of causing) death nor (of giving) life nor of raising the dead. [Surah al-Furqaan (25):3]
And Allah the Most Exalted said:
Say (O Muhammad): “Call upon those whom you claim (to be gods) besides Allah: they do not possess even the weight of small ant neither in heavens nor on the earth they do not share in anything; Allah has not taken any one from among them as a supporter; and intercession with Him (Allah) is of no avail except for whom He permits.” [Surah Saba’ (34):22-23]
And Allah the Most Exalted said:
Do they attribute as partners to Allah those who created nothing but they themselves are created? Neither they can help them nor can they help themselves. [Surah al-A’raaf (7):191-192]
Since these are the traits of these feeble false “gods” to take them as objects of worship is the most foolish act and is most demeaning to the dignity of man.
The second line of argument is as follows: These polytheists would acknowledge that Allah Alone is the “Rubb” the Creator in Whose Hand is the Sovereignty of everything Who protects everything and against Whom there is no protector. This acknowledgement necessitates that they should also acknowledge that Allah is the only God worthy of worship with true Uluhiyyah.
Allah the Most Exalted said:
O Mankind! Worship your Lord (Allah) Who created you and those who were before you so that you may become among the pious. He has made the earth a resting place for you and the sky as a canopy and sent down rain from the sky and brought forth therewith fruits as a provision for you. So do not set up rivals unto Allah (in worship) while you know (that He Alone has the right to be worshipped). [Surah al-Baqarah (2):21-22]
And Allah the Most Exalted said:
And if you ask them who created them they will surely say: “Allah.” Then how do they fabricate lies (about Him)? [Surah az-Zukhruf (43):87]
And Allah the Most Exalted said:
Say (O Muhammad): “Who provides for you from the sky and from the earth? Or who owns (your) hearing and sight? And who brings out the living from the dead and brings out the dead from the living? And who disposes of the affairs?” They will say: “Allah.” Say: “Will you not then be afraid of Allah’s punishment?” Such is Allah your Lord in truth. So after the Truth what else can there be save falsehood and error? How then are you turned away? [Surah Yunus (10):31-32]
The Fourth Aspect: The belief in Allah’s “Asmaa was Sifaat” (Names and Attributes). This is to affirm the names and attributes that Allah affirmed and described about Himself in His Book and in the Sunnah of His Messenger in accordance to what best befits His Majesty and Exaltedness without Tahreef Ta’teel Takyeef or Tamtheel.
Allah the Most Exalted said:
And the Most Beautiful Names belong to Allah therefore call Him by them and leave the company of those who deny falsify (or say blasphemies against) His Names. They will be rewarded for what they used to do. [Surah al-A’raaf (7):180]
And He said:
His is the highest description in the heavens and in the earth. And He is the All-Mighty the All-Wise. [Surah ar-Room (30):27]
And He said:
There is nothing like unto Him and He is the All-Hearer the All Seer. [Surah ash-Shooraa (42):11].
Two groups of people have gone astray regarding this matter:
The first group is the “al-Mu’attilah” who negated all or some of Allah’s names and attributes claiming that affirming them necessitated “Tashbeeh” (see previous footnote). This claim is false in many respects including the fact that firstly it necessitates ascribing contradictions to the words of Allah - may He be glorified exalted and purified from any imperfection. Allah Himself has affirmed these names and attributes to Himself and He also negated any likeness between Himself and anything in the universe. Thus this affirmation cannot contain any “Tashbeeh” since this would imply that there are contradictions in the speech of Allah and that some parts belie the others.
It is also false because it is not necessary that the nominal agreement between two things obligate complete likeness and similarity between them. You see that two humans have the traits of hearing sight and speech but in no way does this necessitate an exact similarity in these characteristics of humanity: hearing sight and speech. Similarly you see that animals have hands legs and eyes but the nominal agreement of having a hand leg and eye does not necessitate that their hands legs and eyes are like each other. If this distinction in the nominal agreement in names and attributes is clearly recognized among the created things then the distinction between the Creator and the created things is even greater and more evident.
The second group is called the “Mushabbihah” who affirm Allah’s names and attributes but make “Tashbeeh” (anthropomorphism) between Allah and His creation claiming that this is the meaning of the texts since Allah only speaks to mankind according to their limited understanding. This is a ridiculously false claim for many reasons including the following:
First: Allah cannot be like His creation because this is negated by the revealed scriptures as well as sound reasoning and it is impossible that the Qur’anic text and Sunnah would propagate falsehood.
Second: Allah addressed mankind according to their understanding of the basic lingual meanings of His names and attributes but this does not mean that the knowledge of the real essence and ultimate true nature of these meanings can be fathomed and comprehended by man regarding His “Dhaat” (essence) and “Sifaat” (attributes). This knowledge is something that exclusively belongs to Allah Alone. If Allah affirms that He is All-Hearer we know the quality of hearing from the lingual understanding of the basic meaning - that is hearing is the sensual comprehension of sounds and voices.
However the essence of this meaning with respect to the Hearing of Allah cannot be fathomed and remains unknown to us because the essence of hearing varies among the created beings and animals so certainly the difference between the hearing of the created and the hearing of the Creator is more and greater.
Allah confirmed that He did “istawaa” on His throne. The general meaning of the word istiwaa is known7 but nevertheless the real meaning and ultimate true nature of Allah’s istawaa on His Majestic Throne is unknown. Istiwaa varies with regards to different actions and creatures. To settle in a chair is different than mounting a wild camel. If istawaa has various meanings among us creatures then how can the istawaa of Allah be compared to the istawaa of His creation? Indeed any reasonable person can understand that there is a huge difference between the two forms of istawaa.
Believing in Allah in the way we have described above leads to many benefits for the believers: first the full realization of Tawheed (Islamic monotheism) by not depending upon fearing hoping for or worshipping anyone else besides Allah; second the fulfillment of complete love reverence and glorification of Allah according to the meanings of these beautiful names and exalted attributes; and third worshipping Allah as He has prescribed with avoidance of what He has commanded to be avoided.
By the Late Eminent Scholar Sheikh Muhammad ibn Salih Al-Uthaymeen Translation by Abu Salman Diya ud-Deen Eberle