Pengikut

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Rabu, 14 Maret 2012

Negeri yang Menipu

Negeri yang Menipu

ISLAM AGAMAKU -Seorang pria yang lagi sakit keras bertanya kepada dokternya. “Dok, tolong katakan, berapa lama lagi saya akan bertahan hidup?” Sang Dokter merasa iba kepada lelaki itu, karena ia tahu penyakit pasiennya sulit disembuhkan, dengan hati penuh iba ia bertanya, “Pak... kenapa Bapak bertanya seperti itu? Mmm... Bapak mau tobat kepada Allah?”
Dengan cepat dijawab oleh lelaki tersebut, “Bukan Dok, saya bukan mau tobat, tapi saya mau makan semua makanan yang selama ini dilarang oleh Dokter!”

Cerita dia atas benar-benar terjadi. Menjadi cermin buat kita, betapa manusia sangat mementingkan nafsu dunia. Hidup hanya untuk menikmati dunia sepuas-puasnya, dan seolah-olah setelah mati tidak ada lagi kehidupan.
Begitu cintanya manusia kepada dunia, bahkan ketika ajal sudah dekat, siksa pedih kubur, dan Hisab Allah tengah menanti, ternyata yang ada di pikirannya hanya nafsu dunia. Naudzubillahi minzaliik...
Mengapa kita cinta dunia? Karena dunia begitu memesona... Kita terbius dengan kenikmatan dunia. Rumah megah, mobil mewah , emas perak, makanan lezat, pangkat, jabatan, kekuasaan, kecantikan dan kemolekan wanita...
Meraih dunia dan segala perhiasannya menjadi tujuan hidup kita. Kita sibuk dengan urusan dunia, terbuai dengan nikmatnya dunia, sehingga lupa dengan urusan yang lebih penting, yaitu urusan akhirat... Kita lupakan alam akhirat, kita lupa betapa indahnya taman Surga, kita tak peduli lagi dengan panasnya api Neraka yang akan membakar kita.
LUPA
Karena cintanya kepada harta (baca: uang) manusia menjadi lupa diri, lupa orangtua, lupa saudara, bahkan lupa kepada Allah, Dzat yang telah menciptakannya!
Uang telah menjadi “Tuhan” kita, lihatlah betapa paniknya kita saat kita tidak punya uang. Tapi kita tidak panik saat Allah memanggil kita melalui azan, untuk ruku' dan bersujud kepada-Nya. Kita malah tetap asik di meja kerja, asik di mal, asik menonton televisi, atau mungkin asik berbuat maksiat!
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur" (QS. At-Takatsur : 1-2)
Dunia ini sifatnya fana, hanya sementara. Dunia adalah negeri yang memperdaya, negeri yang menipu. “...kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali-Imran : 185).
Setelah mati kita akan dibangkitkan dari kubur, kemudian hidup kekal dan abadi di negeri akhirat. Itulah hidup yang sesungguhnya. Ya, kematianlah yang akan memisahkan kita dengan dunia yang sangat kita cintai ini.
Kematian, satu-satunya yang pasti di dunia ini. Sebisa mungkin kita berusaha menghindar dari maut, tapi ketahuilah maut pasti mendatangi kita. Suka atau tidak suka kita pasti mati. Kita semua adalah calon mayat, sedang mengantri dijemput oleh sang malaikat maut, setiap saat malaikat Izrail mengintai kita!
“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati...” (QS. Ali-Imran : 185)
Lalu apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi kematian? Jawaban apa yang akan kita berikan kepada Allah saat kita dihisab nanti? Saat mulut ini terkunci, dibungkam, tak bisa bersuara... dan hanya tangan dan kaki kita yang berkata, memberikan kesaksian sebenar-benarnya kepada Allah, tentang apa yang telah tangan kita perbuat selama hidup di dunia, dan kemana saja kaki ini melangkah...
Hidup di dunia adalah satu-satunya kesempatan emas kita untuk mengumpulkan bekal hidup di negeri akhirat. Sungguh tak berguna harta benda yang kita tumpuk di dunia, Sungguh tak berguna kecantikan dan ketampanan. Kita mati tidak membawa secuil harta apapun, dan tak ada yang mau bersanding dengan kita...
Di dalam liang yang sempit, gelap, senyap, lembab, penuh cacing serta binatang melata, kita sendirian... hanya ditemani oleh selembar kain kafan dan sebilah papan, itupun tak berguna untuk kita. Hanya amal shaleh yang menolong kita!...
“Wahai, kiranya kematian itulah yang menyudahi segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku.” (QS. Al-Haqqah : 27-29)
Merenungi kematian, bukan berarti kita pasif dan pasrah menanti dijemput sang maut, tapi kita bergerak aktif mengisi kehidupan di dunia, mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menuju negeri akhirat yang abadi. Mulai sekarang, detik ini, mari kita gunakan waktu kita, umur singkat kita untuk berbuat kebaikan, beramal shaleh, bertakwa kepada Allah... Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah kematian sebagai penasehat.”
Innalilahi wa innaa ilaihi rajiuun... Sungguh kita hanya milik Allah, dan akan kembali kepada-Nya.
Wallahu ‘alam bishshawaab.(silvani/eramuslim)

Misteri Jabal Magnet Di Arab Saudi

Misteri Jabal Magnet Di Arab Saudi

ISLAM AGAMAKU -Nama Jabal Magnet (Magnetic Hill) atau Gunung Magnet semakin lama semakin populer di Arab Saudi. Tempat ini menjadi favorit bagi para jamaah haji maupun umroh—terutama dari Asia.
Jabal Magnet terletak kira-kira 60 kilometer dari Kota Madinah. Perjalanan menuju kawasan Jabal Magnet dari Madinah dipenuhi sejumlah perkebunan kurma dan hamparan bukit berbatuan. 10 kilometer menjelang Jabal Magnet, ada sebuah danau buatan yang besar. Gunung Magnet didominasi warna hitam dan merah bata.

Keanehan yang paling kentara di daerah ini adalah mobil berjalan sendiri ke arah berlawanan (mundur), bahkan sanggup mendaki tanjakan. Tidak hanya itu, jarum penunjuk kompas juga tidak bekerja sebagaimana mestinya. Arah utara-selatan menjadi kacau. Selain itu, data di telepon seluler bisa hilang di lokasi itu.
Magnetic Hill, atau warga setempat menyebutnya Manthiqa Baidha, yang berarti perkampungan putih. Namun, banyak yang menamainya Jabal Magnet. Daya dorong dan daya tarik magnet di berbagai bukit di sebelah kiri dan kanan jalan, membuat kendaraan yang melaju dengan kecepatan 120 kilo meter per jam, ketika memasuki kawasan ini, kecepatannya perlahan-lahan turun menjadi 5 kilo meter per jam.
Jabal Magnet yang menjadi kawasan wisata penduduk Madinah awalnya ditemukan oleh orang suku Baduy. Saat itu seorang Arab Baduy menghentikan mobilnya karena ingin buang air kecil. Namun karena sudah kebelet, ia mematikan mesin mobil, tapi tidak memasang rem tangan.
Ketika sedang melakukan hajatnya, ia kaget bukan kepalang, mobilnya berjalan sendiri dan makin lama makin kencang. Ia berusaha mengejar, tapi tidak berhasil. Dan menurut kisahnya, mobilnya tersebut baru berhenti setelah melenceng ke tumpukan pasir di samping jalan.
Saat musim haji, banyak jamaah yang menyambanginya. Pemerintah Arab Saudi lalu membangun jalan menuju lokasi tersebut. Di daerah yang terhitung hijau karena banyak ditumbuhi pohon kurma itu, juga dilengkapi sarana wisata lainnya. Ada tenda-tenda untuk pengunjung, ada mobil mini yang bisa disewa untuk merasakan tarikan medan magnet itu.
Secara geologis, fenomena Jabal Magnet bisa dijelaskan dengan logika. Karena, Kota Madinah dan sekitarnya berdiri di atas Arabian Shield tua yang sudah berumur 700-an juta tahun. Kawasan itu berupa endapan lava "alkali basaltik" (theolitic basalt) seluas 180.000 km persegi yang berusia muda (muncul 10 juta tahun silam dengan puncak intensitas 2 juta tahun silam). Lava yang bersifat basa itu muncul ke permukaan bumi dari kedalaman 40-an kilo meter melalui zona rekahan sepanjang 600 kilo meter yang dikenal sebagai "Makkah-Madinah-Nufud volcanic line".(eramuslim)

berdo'a terlindung dari musibah

Musibah adalah sesuatu hal yang tak bisa kita prediksi kapan dan dimana dan kepada siapa akan menimpa. Kewajiban kita sebagai seorang mukmin adalah selalu berdoa minta perlindungan kepada Allah taala Yang Maha Rahim agar kita terhindar dari musibah.
Rasulullah s.a.w dengan berbagai macam cara selalu  menghimbau orang-orang mu’min supaya mereka senantiasa ingat kepada Tuhan agar mereka selalu mendapat limpahan rahmat kasih sayang Allah taala. Azab yang bertubi-tubi turun berupa bencana-bencana alam yang telah menimpa kaum-kaum terdahulu, banyak negeri porak-poranda dan hancur luluh sehingga meninggalkan hanya nama dan bekas-bekasnya saja. Beliau s.a.w sangat merasa khawatir jangan-jangan disebabkan sesuatu kesalahan azab seperti itu turun pula menimpa mereka yang telah  beriman kepada beliau s.a.w atau orang-orang yang tinggal disekitar kampung halaman beliau s.a.w.

Maka dari itu kapan saja saat beliau melihat ada angin bertiup kencang atau hujan lebat turun, beliau segera memohon perlindungan kepada Allah s.w.t dan berdo’a agar Dia menurunkan kasih sayang-Nya. Dan beliau s.a.w menghimbau orang-orang mukmin juga untuk memohon kasih sayang-Nya, agar angin yang sedang bertiup kencang atau hujan yang sedang turun dengan derasnya itu jangan menjadi azab bagi mereka. Maka bila saja terjadi angin badai atau angin kencang bertiup atau hujan turun dengan derasnya maka beliau s.a.w segera memohon perlindungan dan kasih sayang  Allah s.w.t.
Terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Hadzrat Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w bersabda : “Sekali-kali janganlah kamu mengutuki angin karena angin juga pembawa rahmat Allah s.w.t disamping ia membawa azab. Akan tetapi mintalah kebaikan dari angin itu kepada Allah s.w.t dan mohonlah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya.”
Utbah bin Rawahah mendengar dari Aisyah r.a. katanya: “Apabila angin bertiup kencang atau nampak ada awan tebal diatas langit, maka muka Rasulullah s.a.w nampak segera berubah, sebentar duduk  sebentar berjalan, beliau s.a.w mondar-mandir dalam keadaan gelisah dan khawatir takut kalau-kalau angin atau awan itu membawa azab. Apabila hujan sudah turun beliaupun nampak gembira, kegelisahanpun perlahan-lahan menghilang.”
Kata  Aisyah r.a, diwaktu itu beliau s.a.w bersabda : “Aku merasa takut jangan-jangan azab turun bersama angin atau awan itu yang akan menimpa ummatku”. Apabila beliau melihat hujan sudah turun, beliau bersabda : “Alhamdulillah ini rahmat Allah turun!”
Wujud Rasulullah s.a.w dari ujung rambut sampai ujung kaki semata-mata rahmat bagi semua makhluk Allah s.w.t. Beliau sendiri berdo’a untuk semua dan mengajarkan juga do’a-do’a itu yang harus diamalkan oleh ummat beliau. Apabila ada angin atau badai bertiup kencang bacalah do’a ini:

اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْئَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا اُرْسِلَتْ بِهِ

وَاَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا فِيْهَا وَشَرِّمَا اُرْسِلَتْ بِهِ

Artinya : “Ya Allah aku memohon kebaikannya dan kebaikan yang ada didalamnya dan kebaikan yang diturunkan bersamanya. Dan aku berlindung kepada Engkau dari keburukannya dan dari keburukan yang ada didalamnya dan dari keburukan yang diturunkan bersamanya.”

اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَ تَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجْاَتِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَتِكَ

Artinya :“Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari hilangnya ni’mat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan padaku, dan dari azab Engkau yang datangnya secara tiba-tiba dan aku berlindung kepada Engkau dari semua perkara yang menimbulkan kemurkaan Engkau.”
(Dikutip dari Khutbah Jumat Mirza Masroor Ahmad, Pemimpin Ahmadiyah seluruh dunia di Masjid  Baitul Futuh, London, 2 Maret 2007